MeTaLoYaL

tHe diFFErent isnt AlwaYz better But THE besT is always Different..

Thursday, April 23, 2026

MUSNAD AHMAD 6664 (6958) : SETIAP AMALAN ADA WAKTU SEMANGAT DAN WAKTU LEMAH (FUTUR)

Musnad Ahmad (مسند الإمام أحمد بن حنبل) 
Hadis No. 6664

مسند المكثرين من الصحابة
مسند عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى عنهما

مسند أحمد ٦٦٦٤

حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ أَخْبَرَنِي حُصَيْنٌ سَمِعْتُ مُجَاهِدًا يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ وَمَنْ كَانَتْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

Kitab Musnad Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits
Bab Musnad Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash Radliyallahu ta'ala 'anhuma

Musnad Ahmad 6664: 

Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah mengkhabarkan kepadaku Hushain dia berkata: aku mendengar Mujahid menceritakan dari Abdullah bin 'Amru, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan itu ada waktu semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa jenuhnya, maka barangsiapa semangatnya cenderung kepada sunahku dia beruntung, dan barangsiapa masa jenuhnya cenderung kepada selain itu maka ia celaka."


ISNAD SAHIH MENURUT SYUA'IB AL-ARNA'UTH

***************************************************

Telah menceritakan kepada kami Rauh, katanya: telah menceritakan kepada kami Syu'bah, katanya: telah mengkhabarkan kepadaku Husain, katanya: aku mendengar Mujahid menceritakan daripada Abdullah bin 'Amr, katanya: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap amalan itu mempunyai keghairahan, dan setiap keghairahan itu mempunyai kelemahan, maka sesiapa yang kelemahannya kepada sunnahku, maka sesungguhnya dia berjaya, dan sesiapa yang kelemahannya kepada selain itu, maka sesungguhnya dia binasa."



Hadith 6958

(حديث مرفوع)

 حَدَّثَنَا رَوْحٌ ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، أَخْبَرَنِي حُصَيْنٌ ، سَمِعْتُ مُجَاهِدًا يُحَدِّثُ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي ، فَقَدْ أَفْلَحَ ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ " .

It is narrated from Sayyiduna Ibn Amr, may Allah be pleased with him, that the Noble Prophet, peace and blessings be upon him, said: "Every deed has a period of enthusiasm, and every enthusiasm has an end—either towards the Sunnah or towards innovation. Whoever's end is towards the Sunnah, he is rightly guided, and whoever's end is towards something else, he is destroyed."

Hadith Reference 
مسند احمد / مسند المكثرين من الصحابة / 6958

Hadith Grading
 .حکم دارالسلام: إسناد صحيح، م: 2173

**********************************************************************************




************************************************************************

Definisi Futur

Istilah “futur” berasal dari kata al-fatroh. Disebutkan dalam kitab Lisanul Arab :

الفَتْرَةُ: الانكسار والضعف

“Al-fatroh artinya rusak dan lemah”.

Oleh karena itu, futur didefinisikan oleh para ulama sebagai kelemahan setelah sebelumnya kuat. Dalam kitab Lisanul Arab juga disebutkan:

يَفْتُر ويَفْتِر فُتُوراً وفُتاراً: سكن بعد حدّة ولانَ بعد شدة

“yafturu – yaftiru – futuuron atau futaarron artinya: diam setelah aktif, lembek setelah kuat”.

Disebutkan dalam definisi lain:

الفتور هو الكسل، والتراخي، والتباطؤ بعد الجد

“Futur adalah malas, suka menunda, atau lambat dalam beramal, padahal sebelumnya semangat” (al-Futur Mazhahir Asbaab wa ‘Ilaj, hal. 22).

Intinya, kata kunci dari futur adalah terjadi kelemahan dan kemunduran. Semisal orang yang sebelumnya rajin shalat malam, kemudian tidak rajin lagi, ini juga termasuk futur karena terdapat kemunduran. Yang sebelumnya sering bersedekah lalu menjadi jarang bersedekah, ini juga futur.

Maka demikian juga yang dahulunya tidak isbal, lalu menjadi isbal, ini bentuk futur. Karena terjadi kemunduran. Apalagi, jika dahulu istiqomah belajar tentang sunnah-sunnah Nabi dan berusaha mengamalkannya, namun sekarang sudah tidak demikian lagi, ini juga jelas termasuk futur.

‘Ala kulli haal, futur itu manusiawi. Namun ketika futur, upayakan jangan sampai terlalu jauh futurnya sehingga melewati batasan-batasan syariat. Dan terus berusaha bangkit kembali ke mode semangat.

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

لكلِّ عملٍ شِرَّةٌ ولكلِّ شِرَّةٍ فَترةٌ فمَن كانَت فترتُهُ إلى سنَّتي فقد اهتَدى ومَن كانَت فترتُهُ إلى غيرِ ذلكَ فقَد هلَكَ

“Setiap amalan ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa futurnya. Barang siapa yang futurnya di atas sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk. Barang siapa yang futurnya bukan di atas sunnahku, maka ia akan binasa” (HR. Ahmad no. 6764, dishahihkan Al-Albani dalam Takhrij Kitabus Sunnah hal.51).

No comments:

Post a Comment